Menyusuri Sungai Musi dari Sekayu: Kehidupan Perahu Tradisional dan Pemandangan Tepian Hulu
Perjalanan menyusuri Sungai Musi dari Sekayu, mengenal perahu tradisional, kehidupan nelayan, dan pemandangan tepian hulu yang masih asri.

Poin Penting
- Sekayu adalah ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
- Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di Sumatera Selatan
- Perahu tradisional masih menjadi alat transportasi sehari-hari warga tepian sungai
- Sepanjang jalur hulu dari Sekayu, pemandangan berupa hutan rawa dan vegetasi tepian sungai
- Masyarakat lokal menggantungkan kehidupan dari sungai sebagai nelayan dan pedagang kecil
Pagi di Dermaga Sekayu
Matahari belum sepenuhnya naik ketika beberapa perahu kayu berukuran kecil sudah berjejer di tepi Sungai Musi, sekitar pusat Sekayu. Seorang nelayan bernama Pak Budi sedang menata jaring di atas perahu miliknya. Perahu itu berwarna biru pudar, dengan papan-papan yang sudah tua namun masih kokoh menahan air sungai. Pak Budi tinggal di salah satu kampung tepian sungai dan sudah puluhan tahun menjadikan Musi sebagai sumber penghidupan.
Dari dermaga sederhana di Sekayu, sungai terlihat luas dan tenang. Air berwarna cokelat kekhasan sungai di Sumatera Selatan, membawa lumpur dari hulu yang membuat tanah di sekitarnya subur. Perahu-perahu tradisional bersandar tidak beraturan, ada yang berukuran kecil untuk satu atau dua orang, ada yang lebih besar dengan mesin tempel di belakang. Beberapa perahu membawa muatan hasil bumi—kelapa, pisang, dan sayur—yang akan dibawa ke pasar terdekat.
Sepi di pagi buta tidak bertahan lama. Lambat laun, suara mesin perahu mulai memenuhi udara. Anak-anak kecil berteriak sambil berlarian di papan penghubung perahu ke darat. Aktivitas khas tepian sungai yang sudah berlangsung turun-temurun.
Perahu Tradisional dan Fungsinya
Perahu di Sungai Musi bukan sekadar alat transportasi. Bagi warga Sekayu dan sekitarnya, perahu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada perahu kecil yang dipakai nelayan untuk menangkap jaring di sekitar rumpun bambu tepian sungai. Ada perahu yang lebih besar, kadang ditambahkan atap dari anyaman daun untuk meneduhikan penumpang dan muatan.
Bahan baku pembuatan perahu biasanya kayu lokal yang tahan air. Pengrajin perahu di daerah ini masih ada, meski jumlahnya sudah lebih sedikit dibandingkan puluhan tahun lalu. Mereka bekerja dengan cara turun-temurun, menentukan bentuk perahu sesuai fungsi—yang ramping untuk meluncur cepat di sempalan sungai, yang lebar dan rendah untuk membawa barang banyak.
Di beberapa titik sepanjang jalur hulu dari Sekayu, perahu tradisional masih menjadi satu-satunya akses ke kampung-kampung kecil. Jalan darat belum mencapai semua daerah. Warga menumpang perahu untuk berangkat ke kebah, mengantar anak sekolah, atau membawa hasil kebah ke tempat yang bisa dijangkau kendaraan bermotor.
Pemandangan Sepanjang Tepian Hulu
Semakin ke hulu dari Sekayu, pemandangan di sepanjang tepi Sungai Musi semakin sepi dari bangunan besar. Yang tampak adalah rumpun bambu, pohon-pohon besar yang akarnya mencuri ke air, dan sesekali rumah panggung kayu berdiri tidak jauh dari tepi. Suasana terasa lebih tenang dibandingkan bagian hilir yang sudah ramai aktivitas.
Air di bagian hulu biasanya lebih jernih dibandingkan di hilir. Di beberapa tempat dangkal, dasar sungai yang berpasir terlihat jelas. Burung-burung kecil berterbang rendah di atas air. Vegetasi tepian sungai tumbuh liar, menciptakan koridor hijau di kiri-kanan aliran air.
Perjalanan menyusuri sungai dari arah hulu ke Sekayu memakan waktu cukup lama, tergantung jarak dan arus. Di perjalanan, sesekali terlihat nelayan melempar jaring atau memeriksa bubu yang dipasang sehari sebelumnya. Aktivitas sederhana yang sudah berlangsung lama dan masih bertahan hingga sekarang.
Kehidupan yang Bergantung pada Sungai
Bagi masyarakat di sekitar Sungai Musi dekat Sekayu, sungai adalah pusat kehidupan. Pagi hingga siang, aktivitas banyak berlangsung di atas air. Nelayan mencari ikan, pedagang membawa barang, anak-anak berenang di bagian dangkal yang mereka kenal betul kondisinya. Sore hari, perahu-perahu kembali ke tempat bersandar, dan tepi sungai menjadi tempat berbincang sambil mengeringkan jaring.
Hasil tangkapan ikan dari Sungai Musi—seperti patin, baung, dan lais—masih menjadi komoditas penting bagi nelayan kecil. Mereka menjual ke tengkulak atau langsung ke pasar di Sekayu. Tidak ada angka pasti soal hasil tangkapan harian karena sangat bergantung pada musim dan cuaca, tetapi bagi nelayan seperti Pak Budi, sungai tetap memberikan cukup untuk menghidupi keluarga.
Musim hujan dan kemarau juga memengaruhi kondisi sungai. Saat air tinggi, perjalanan ke hulu bisa lebih mudah karena banyak anak sungai yang bisa dilalui. Saat surut, beberapa jalur harus dilalui perlahan karena dasar sungai yang dangkal. Masyarakat lokal sudah memahami pola ini dengan baik.
Video Pilihan
Sering Ditanyakan
Bagaimana cara mencapai Sekayu untuk menyusuri Sungai Musi?
Sekayu dapat ditempuh dari Palembang melalui jalur darat. Perjalanan memakan waktu beberapa jam dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Sesampai di Sekayu, akses ke sungai dapat dicapai dari titik-titik dermaga sederhana yang ada di sekitar pusat kecamatan.
Apakah perahu tradisional masih bisa disewa untuk menyusuri sungai?
Perahu-perahu milik nelayan atau warga setempat kadang bisa diajak bernegosiasi untuk mengantar menyusuri sungai. Tidak ada sistem tiket resmi seperti wisata terkelola, jadi pengunjung perlu bertanya langsung kepada pemilik perahu di tepi sungai.
Kapan waktu terbaik mengunjungi Sungai Musi dari Sekayu?
Musim kemarau biasanya membuat kondisi air lebih tenang dan jalur hulu lebih mudah dilalui. Namun, kunjungi pagi hari untuk menikmati aktivitas nelayan dan suasana tepian sungai yang masih sepi.
Apa yang bisa dilihat di sepanjang tepian hulu Sungai Musi dari Sekayu?
Pemandangan tepian hulu didominasi oleh vegetasi tepian sungai, rumpun bambu, pohon-pohon besar, rumah panggung sesekali, dan aktivitas nelayan tradisional. Suasanya lebih sepi dan alami dibandingkan bagian hilir.