SLintas Sekayu
Event dan Festival Lokal Sekayu

Perayaan Masyarakat Sekayu: Tradisi Lokal dan Kegiatan Rakyat di Ibu Kota Musi Banyuasin

Sekayu, ibu kota Musi Banyuasin, hidup dalam ritme gotong royong, pasar tradisional, dan perayaan sungai yang masih dijaga warga.

Perayaan Masyarakat Sekayu: Tradisi Lokal dan Kegiatan Rakyat di Ibu Kota Musi Banyuasin

Poin Penting

  • Sekayu menjadi ibu kota Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
  • Masyarakat Sekayu menggantungkan hidup pada perkebunan karet, kelapa sawit, dan perikanan Sungai Musi
  • Gotong royong masih menjadi tulang punggung kerja sama warga di tingkat RT dan desa
  • Pasar Sekayu menjadi titik temu pedagang dari sepanjang aliran Sungai Musi
  • Kegiatan keagamaan dan perayaan hari besar nasional menjadi agenda rutin warga Sekayu

Pagi di Sekayu: Pasar dan Kopi

Pukul lima pagi, Pasar Sekayu sudah ramai. Pedagang ikan dari Sungai Musi menggelar hasil tangkapan di lantai papan — baung, belido, dan patin yang masih bergerak. Di sampingnya, penjual sayur dari desa-desa sekitar menata kangkung, kacang panjang, dan cabai dalam keranjang anyaman bambu. Suara tawar-menawar berpadu dengan aroma sambal tempoyak dari warung makan pinggir pasar. Warga Sekayu terbiasa berbelanja sambil duduk menyeduh kopi hitam di kedai sederhana. Warung kopi di sekitar pasar menjadi tempat berbagi informasi: harga karet turun, jalan desa terendam, atau rencana kerja bakti akhir pekan. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah cara masyarakat Sekayu mempertahankan ikatan sosial yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Gotong Royong: Nafas Komunitas Sekayu

Kerja bakti di Sekayu tidak pernah menunggu instruksi pemerintah. Ketika saluran irigasi di Desa Rawasari tersumbat, warga berkumpul membawa cangkul dan golok tanpa diminta. Pria muda mengeruk lumpur, sementara ibu-ibu menyiapkan nasi dan lauk dari dapur masing-masing. Pola ini berulang setiap kali ada keperluan bersama — memperbaikan jalan tanah, membersihkan masjid, atau menyiapkan acara peringatan kemerdekaan. Gotong royong di Sekayu berakar pada kehidupan agraris. Masyarakat yang hidup dari kebun karet dan sawit saling mengandalkan saat musim tanam atau panen. Saling berbagi tenaga bukan soal kewajiban, melainkan kebutuhan hidup. Di lingkungan perkotaan Sekayu, pola ini masih terasa, meskipun intensitasnya berkurang dibanding desa-desa pedalaman. Komunitas pemuda di beberapa kelompok RT menginisiasi kerja bakti sebagai cara mempererat hubungan antar-tetangga yang mulai jarang bertemu.

Perayaan Sungai dan Hari Besar

Sungai Musi adalah denyut kehidupan Sekayu. Saat peringatan hari besar nasional, warga sering menggelar kegiatan di tepi sungai — lomba perahu, memancing bersama, atau sekadar duduk di dermaga menunggu matahari terbenam. Tidak ada festival besar bertaraf internasional yang rutin digelar di Sekayu. Yang ada adalah perayaan sederhana yang bermakna: khatam Al-Quran di mushola, tujuh belasan di lapangan kecamatan, atau peringatan Maulid di masjid besar. Setiap perayaan melibatkan partisipasi warga secara langsung. Panitia dibentuk dari tetangga-tetangga terdekat. Biaya dikumpulkan dari iuran sukarela. Makanan disiapkan bersama di dapur umum. Cara ini menciptakan rasa kepemilikan yang kuat. Warga tidak datang sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari acara itu sendiri. Inilah yang membuat perayaan di Sekayu terasa berbeda dari acara yang diselenggarakan secara profesional dan komersial.

Kuliner dan Keramahtamahan

Mengunjungi rumah warga Sekayu berarti disuguhan makanan. Palembang dan budaya Melayu yang melatarbelakangi kabupaten ini menghasilkan masakan berbahan ikan dan santan yang menjadi sajian utama. Pindang patin, laksa Sekayu, dan kue-kue tradisional seperti kue maksuba atau kue iris hadir di setiap acara penting. Di warung-warung makan Sekayu, seporsi ikan bakar dengan sambal dan lalapan harganya relatif terjangkau — cocok untuk pekerja kebun yang makan siang sebelum kembali ke ladang. Kuliner di sini bukan atraksi wisata. Ini adalah bentuk keramahtamahan yang otentik. Pemilik warung sering menambah porsi tanpa dibayar, atau menolak bayar dari warga yang sudah kenal dekat. Praktik ini mencerminkan nilai kebersamaan yang masih kuat di masyarakat Sekayu.

Video Pilihan

Sering Ditanyakan

Apa yang menjadi ciri khas perayaan di Sekayu?

Perayaan di Sekayu bersifat partisipatif — warga terlibat langsung sebagai panitia, penyedia makanan, atau peserta, bukan sekadar penonton.

Di mana pusat kegiatan sosial warga Sekayu?

Pasar Sekayu dan warung kopi di sekitarnya menjadi titik temu utama warga untuk berinteraksi dan bertukar informasi.

Apa yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat Sekayu?

Perkebunan karet, kelapa sawit, dan perikanan Sungai Musi menjadi andalan ekonomi warga Sekayu.

Bagaimana kondisi gotong royong di Sekayu saat ini?

Gotong royong masih hidup di tingkat RT dan desa, terutama untuk keperluan infrastruktur dan keagamaan, meskipun intensitasnya menurun di area perkotaan.

Apa sajian khas yang biasa ditemui di Sekayu?

Masakan berbahan ikan seperti pindang patin dan laksa, serta kue tradisional seperti kue maksuba menjadi sajian khas yang dijumpai di Sekayu.